Coffee Break

Written by Andy Zheng on Sunday, March 25, 2007 at 5:21 AM

Cuap2 v4st

Maafkan saya atas... ke-tidak-komitmen saya akan blog... tolong pahamilah bahwa penguin,(bukan)kucing, dan cumi itu sangat menyita waktu saya, sehingga saya tidak sempat memanjakan diri saya, atau sekedar mem-fitness otak saya dengan cuap-cuap atau binatang lainnya...thx...

*************************************************
Seorang programmer mengirimkan surat berikut :
Yth. Customer Support:

Saya sangat membutuhkan bantuan. Baru-baru ini saya
melakukan upgrade program Girlfriend 7.0 ke Wife 1.0
dan diluar perkiraan saya ternyata program baru ini
mulai melakukan proses pembuatan sub program Child 1.0
dan juga mulai memakan waktu dan sumber berharga
lainnya. Hal ini tidak dicantumkan di brosur
produknya.

Sebagai tambahan Wife 1.0 juga mengacaukan program
lainnya, memasukkan dirinya ke dalam proses start up
harian dimana secara otomatis memonitor semua
aktivitas system seperti sebuah Virus.

Program saya lainnya seperti Hang Out Cafe© 2.5 atau
Friday Nite Party 311 tidak lagi bisa berjalan dan
menyebabkan system menjadi crash setiap kali
dilakukan. Saya mencoba menjalankan Lazy Saturday 5.0
atau Sleepy Sunday 4.2 namun juga tidak dapat
dijalankan, bahkan program Saturday Shopping 3.0 atau
Sunday Home Cleaning 3.11 yang muncul.

Sepertinya saya tidak bisa membuat Wife 1.0 bekerja di
background sementara saya mencoba menjalankan aplikasi
favorit saya lainnya. Saat ini saya sedang berfikir
untuk kembali ke Girlfriend 7.0 dan melakukan
Uninstall program Wife 1.0 namun tidak bisa.

Mohon bantuannya,
Programmer

Sehari setelah dia mengirim email itu, dia mendapat
jawabannya yang isinya :


Yth. Bapak Programmer,
Ini adalah masalah yang sering muncul dari
kesalahpahaman yang mendasar sekali. Banyak orang yang
melakukan upgrade program Girlfriend 7.0 ke Wife 1.0
berfikir bahwa Wife 1.0 adalah tipe Utility &
entertainment Program.
Sedangkan hal yang sebetulnya Wife 1.0 adalah
Operating System, dirancang oleh Programmer kami di
HEAVEN UNLIMITED COMPANY untuk menjalankan
semuanya.

Anda tidak bisa menghapus Wife 1.0 dan kembali ke
Girlfriend 7.0. Wife 1.0 tidak dirancang untuk ini
karena jika dipaksakan untuk dilakukan dapat
menyebabkan system anda berantakan.

Kami merekomendasikan tetap menggunakan program Wife
1.0 dan coba menghadapi beberapa hal yang Anda anggap
sebagai kesulitan sebaik mungkin.
Beberapa tips dari kami jika ada suatu masalah, coba
jalankan semua recovery program yang ada di folder
C:\APOLOGIZE, seperti Say Sorry 8.0 or Hug & Kiss 9.0.
Walaupun beberapa orang menganggap Wife 1.0 adalah
suatu program yang butuh perawatan tinggi, banyak juga
orang yang tahu bahwa program ini dapat menjadi sangat
menyenangkan. Untuk memperoleh manfaat maksimal
program Wife 1.0 ini, Anda dapat mencoba membeli
add-on program seperti Listening 5.0, Flowers 2.5 atau
Chocolates 1.3.

Dalam hal apapun kami sangat tidak merekomendasikan
untuk install program Secretary 1.0 (Short Skirt
Version) karena program ini sangat tidak kompatibel
dengan Wife 1.0 dan hampir dipastikan akan menyebabkan
system menjadi crash.

Semoga dapat membantu,

Customer Service

Once Upon A Time – Part 4 -&- Order And Chaos – Part III

Written by Andy Zheng on Thursday, February 22, 2007 at 11:50 PM

.: Biggest Match on The Earth :.

Di dunia ini ada dua jenis waktu. Waktu mekanis dan waktu tubuh. Waktu yang pertama kaku, laksana pendulum besi raksasa yang berayun maju-mundur, bergerak membuat sequence yang tetap. Waktu yang kedua bergeliang-geliut seperti ikan di rawa kering haus akan kehidupan dan terus mencari dan bergerak, seakan dapat memperpanjang hidupnya. Waktu pertama tidak dapat ditolak karena itu merupakan sabda bahagia dari langit, mutlak, yang telah ditetapkan dari generasi ke generasi. Waktu yang kedua menyusup diantara relung hati dan kanal-kanal otak untuk mengambil keputusan, tanpa ada hukum dan dalil yang pasti.

Beberapa orang tidak yakin bahwa waktu mekanis itu ada. Ketika melewati jam raksasa di taman kota mereka tidak melihatnya, juga tidak mendengar bunyi loncengnya saat mengirimkan paket-paket ke kantor pos atau saat berjalan-jalan di taman bunga. Mereka menggenakan jam di pergelangan tangan, tetapi itu sekedar ornament atau semacam sopan-santun bagi yang ingin memberikannya sebagai hadiah, Mereka juga tidak menyimpan jam dinding di rumah. Sebagai gantinya mereka mendengarkan detak jantung. Mereka merasakan irama suasana hati dan berahi mereka. Mereka makan saat lapar, dan pergi ke tempat kerja di perusahaan topi perempuan atau ahli kimia kapan saja ketika terbangun dari tidur, bermain cinta sepanjang hari. Beberapa orang bahkan menertawakan pemikiran tentang waktu mekanis. Mereka tahu bahwa waktu bergerak tidak beraturan, bagai ombak di laut. Mereka tahu bahwa waktu terus maju tanpa beban di punggungnya seperti saat mereka buru-buru membawa seorang anak yang terluka ke rumah sakit, atau ketika tatapan tetangga mulai sinis dan terasa menganggu. Mereka juga tahu bahwa waktu melaju cepat melintasi padang yang kaya akan visi tatkala sedang makan enak bersama teman-teman, atau ketika menerima pujian atau kebohangan dalam pelukan kekasih gelap.

Lalu, ada sejumlah orang yang berpikir bahwa tubuh mereka tidak ada, void, dan penuh akan kehampaan. Mereka hidup dengan waktu mekanis. Mereka bangun pada pukul 4 pagi. Untuk melakukan ritual mereka sehari-hari. Makan siang tepat pada tengah hari dan makan malam pada pukul enam petang. Mereka memenuhi janji tepat waktu, persis seperti yang ditunjukkan jam. Mereka bermain cinta antara pukul delapan malam hingga sepuluh malam. Bekerja empat puluh jam seminggu, membaca koran minggu pada hari minggu, bermain catur pada tiap malam selasa. Ketika perut mereka bernyanyi, mereka mengamati jam tangan mereka untuk melihat apakah sudah waktunya untuk makan. Ketika mereka tengah asyik menikmati suatu konser, mereka menatap kearah jam dinding yang ada di atas panggung untuk melihat apakah sudah waktunya untuk pulang. Mereka sadar bahwa tubuh bukanlah suatu keajaiban, melainkan suatu kumpulan bahan kimia, jaringan, dan impuls saraf. Pikiran tak lebih dari gelembung listrik sinapsis dalam otak. Rangsangan seksual tak lebih dari aliran senyawa kimia sang hormon pada ujung syaraf tertentu. Kesedihan tak lebih dari asam memuakan yang menusuk di otak kecil. Pendeknya, tubuh adalah mesin yang tunduk pada hukum listrik dan mekanika sebagaimana electron atau jam. Karena itulah , tubuh harus disapa dengan persamaan-persamaan fisika. Jika tubuh sedang berbicara, ia melulu berbicara tentang beberapa tuas dan tekanan. Tubuh adalah sesuatu untuk diperintah bukan untuk dipatuhi.

Membawa serta udara malam sungai, seseorang melihat bukti dua dunia menjadi satu. Seorang tukang perahu sedang mengukur posisinya yang tidak jelas dengan menghitung detik-detik yang hanyut dalam alur air. “Satu, tiga meter, Dua, enam meter, Tiga, sembilan meter” suaranya membelah kegelapan malam dengan ucapan yang jernih dan tegas. Di bawah cahaya lampu di jembatan besar yang telah termakan usia, dua orang bersaudara yang tidak pernah berjumpa selama bertahun-tahun minum dan tertawa bersama. Lonceng gereja berdenting sepuluh kali. Dalam beberapa detik, lampu-lampu di kota berkedip-kedip dengan sempurna, suatu kesempurnaan mekanis ,seperti kesimpulan geometri Euklidan. Berbaring di taman indah ditemani gemericik bunyi air mancur kolam ikan, sepasang kekasih menatap langit dengan malas, terbangun dari tidur yang lelap karena denting lonceng di kejauhan, terkejut menyadari bahwa malam telah tiba.

Ketika dua waktu bertemu, yang terjadi adalah keputusasaan, seperti keputusasaan sepasang kekasih dimana waktu mereka telah berlalu. Ketika dua waktu menujuh arah yang berbeda hasilnya adalah kebahagian. Karena itulah, secara menakjubkan, seorang pengacara, perawat, tukang roti dapat mengkehendaki satu dunia, tidak keduanya. Tiap waktu adalah benar, tetapi kebenaran itu tidak selalu sama.

Seperti suatu koin logam dimana terdapat sisi yang terang dan gelap… dan semua orang dapat melihat baik sisi terang maupun sisi gelap si logam. Namun tidak ada seorang pun yang dapat melihat sisi gelap dan sisi terang si logam secara bersamaan(tidak saling bergantian) pada detik yang sama dan tempat yang sama.

Once Upon A Time – Part 3

Written by Andy Zheng on Friday, February 9, 2007 at 12:38 AM

~: Parallel World :~

Pagi yang dingin di bulan Februari dan rintik hujan gerimis yang kemudian mengisi cekungan besar di jalan raya. Seorang lelaki dengan jaket kulit tebalnya berdiri sambil mengosokkan kedua tangannya sambil sesekali meniup-niup tangannya untuk mengusir kedinginan yang menghantuinya. Lelaki itu berdiri di sebuah balkon apartment-nya menatap pancuran 7 cupid yang meniupkan lantunan ombak dan pedestrian berwarna merah maroon di bawah. Kearah timur, ia bisa menatap museum negara yang dindingnya telah kusam dan rapuh, kearah barat , atap kurva hijau mesjid agung memantulkan cahaya matahari seakan ingin menunjukan masa kejayaanya. Tetapi, lelaki itu tidak sedang menatap ke timur ataupun barat. Ia menatap ke bawah, kearah sapu tangan merah mungil yang tergeletak di jalanan dekat kolam pancuran, dan ia sedang berpikir. Haruskah ia pergi ke rumah perempuan itu di ujung tenggara dari apartment tersebut? Tangannya mencengkram kuat-kuat kisi-kisi pagar besi, melepaskannya, mencengkramnya kembali kuat-kuat. Apakah ia harus mengunjunginya? Apakah harus?

Ia memutuskan untuk tidak menemui perempuan itu lagi. Perempuan itu suka menyeleweng dan mengritik, dan mungkin akan membuat hidupnya sengsara. Bisa jadi pula perempuan itu sama sekali tidak tertarik padanya. Maka, ia putuskan untuk tidak menemuinya lagi. Sebaliknya ia akan berkumpul bersama teman-temannya. Ia bekerja keras di pabrik obat, tempat ia hampir tidak pernah menaruh perhatian pada asisten manajernya yang perempuan. Ia pergi bersama teman-temannya ke café sederhana di dekat apartment-nya di malam hari untuk minum soda, belajar mencampur berbagai jenis minuman. Lalu tiga tahun kemudian, ia berjumpa dengan seorang perempuan lain di suatu butik ternama. Perempuan itu menyenangkan. Mereka bermain cinta setelah bersama beberapa bulan. Perempuan itu tidak pernah terlihat panik. Setelah satu tahun, ia menikahi perempuan itu dan pindah ke perumahan elit di sub-urban. Mereka hidup tenang, berjalan-jalan bersama mengelilingi taman indah, saling menjadi sahabat, menjadi tua dan bahagia.

***

Di dunia yang kedua, lelaki dengan jaket kulit itu memutuskan untuk menemui perempuan di ujung tenggara apartment-nya. Ia hanya tahu sedikit tentang perempuan itu. Bisa jadi perempuan itu penyeleweng dan gerak tubuhnya adalah cerminan dari wataknya yang gampang berubah, tetapi senyuman itu, tawa itu, penggunaan kata-kata yang cerdas itu. Ya, ia harus menemui perempuan itu lagi. Ia pergi ke rumah itu lagi, saling bertatap muka di pintu masuk, duduk bersama di sofa dan secepat itu di hatinya terketuk, tak berdaya oleh lengan putih perempuan itu. Mereka bermain cinta, gaduh, dan penuh nafsu. Perempuan itu membujuknya agar mau pindah ke daerah rumah perempuan itu. Lelaki itu meninggalkan pekerjaannya dan lantas bekerja di kantor pos dekat rumah perempuan itu. Ia terbakar oleh rasa cinta pada perempuan itu. Setiap sore ia pulang kerja. Mereka makan, bermain cinta, berdebat, perempuan itu mengeluh butuh uang yang lebih banyak lagi, si lelaki berdalih, perempuan itu melemparkan jambangan bunga ke arahnya, mereka bermain cinta lagi, si lelaki kembali bekerja di kantor pos. Perempuan itu mengancam meninggalkan si lelaki, tapi tak pernah dilakukannya. Lelaki itu hidup demi perempuan tersebut, dan ia bahagia dengan penderitaannya.

***
Di dunia yang ketiga, lelaki itu juga memutuskan untuk menemui perempuan dari tenggara itu. Ia hanya tahu sedikit tentang perempuan itu. Bisa jadi perempuan itu penyeleweng dan gerak tubuhnya adalah cerminan dari wataknya yang gampang berubah, tetapi senyuman itu, tawa itu, penggunaan kata-kata yang cerdas itu. Ya, ia harus menemui perempuan itu lagi. Ia pergi ke rumah itu lagi, saling bertatap muka di pintu masuk, minum teh bersama di taman. Mereka berbincang-bincang tentang pekerjaan si perempuan di perpustakaan dan si lelaki di pabrik obat. Setelah satu jam, perempuan itu mengatakan ia harus pergi menolong seorang teman, mengucapkan salam perpisahan, mereka berjabat tangan, Lelaki itu menempuh perjalanan pulang sejauh tiga puluh kilometer kembali ke apartment-nya, merasa hampa selama dalam perjalanan pulangnya, menyesali akan ketidak-beraniannya. Naik ke apartment-nya di lantai 4, berdiri di balkon, dan menatap dengan kosong ke arah sapu tangan merah mungil yang tergeletak di jalanan dekat kolam pancuran, di bawah.

===

Tiga rentetan peristiwa itu sungguh-sungguh terjadi, serentak. Bagi dunia seperti ini, waktu memiliki tiga dimensi, seperti ruang. Dan karena satu benda bisa bergerak tegak lurus ke tiga arah, horizontal, vertical, dan diagonal, maka sebuah benda dapat berada dalam tiga masa depan yang tegak lurus. Setiap masa depan bergerak dalam arah waktu yang berbeda. Setiap masa depan adalah nyata. Apapun keputusan yang diambil, apakah lelaki itu akan mengunjungi perempuan di tenggara, atau membeli jaket kulit baru, dunia terbelah menjadi tiga, masing-masing dengan orang-orang yang sama tetapi dengan scenario yang berbeda. Dalam waktu, terdapat ketidakterbatasan dunia.

Beberapa orang memandang enteng pada keputusan-keputusan, mengatakan bahwa semua kemungkinan dari keputusan-keputusan itu akan terjadi. Dalam dunia semacam ini, bagaimana orang bertanggungjawab atas tindakannya? Sementara itu, yang lain bersikukuh bahwa tiap keputusan harus dipertimbangkan masak-masak dan dilaksanakan, sebab tanpa rasa tanggung jawab akan terjadi kekacauan. Orang-orang ini tidak puas menjalani kehidupan di dunia yang saling bertentangan, sepanjang mereka memahami alasan masing-masing.

A matter of clarity that is black and white.

Written by Andy Zheng on Tuesday, January 30, 2007 at 10:15 PM

well, blog g ini dah ada beberapa post dan banyak comment, tapi g belom pernah secara lansung menjelaskan who am I, di dalam blog g…

ok, lansung aj, g Andy, nama lengkap g Andy Tenario, trus kenapa di blog ini profil g tertulis sbg Andy Zheng… Zheng itu marga g, bukan asal main comot supaya kaya artis hongkong, tapi marga ini sebagai suatu symbol kemawasan diri dan tanggung jawab…

kenapa mawas diri… ok ini simplenya dalem hidup ini general-ly org selalu memiliki angan, ambisi, cita-cita, atau whatever itu… I don’t care™ ,… yang sering dilukiskan dengan quote popular “ raihlah cita-cita mu setinggi langit”,… itu menurut g cukup bagus, cmn masih dalam level “CUKUP” belum “BAGUS” yang seutuhnya, why???

Dalam hidup ini menurut g selain butuh… sesuatu yang namanya GOAL kita juga memiliki sesuatu yang harus kita tahu pasti sebelum kita melangkah… apa itu??? Dalam definisi g itu disebut “condition” dan klo dalanm istilah yang lebih keren disebut sebagai SWOT (Strength Weakness Opportunities Threat), so sebelum u terlalu bermimpi, sebaiknya u tau dolo dimana saat ini u berada, supaya mimpi u itu ga jadi sekedar khayalan ga jelas…

Lalu hubungannya dengan marga itu…??? Ok marga itu bisa dikatakan supaya g selalu ingat darimana g berasal, dimana g berada, dan siapa orang tua g, kakek g, sampe sesepuh dan tetua-tetua yang ada, ga cmn berhenti sampe di situ… yg g harus ingat juga adalah jasa mereka dan apa yang telah mereka lakukan, hal baik yg mereka lakukan akan menjadi beban mental yang harus g panggul untuk meneruskannya, dan hal buruk yg mereka lakukan harus g panggul untk g kikis abis… itu lah tanggung jawab g sebagai salah satu pengemban marga…

Ok pembahasan soal marga kita sudahi dolo… sekrang gentle-vast… sejak dahulu kala nama dikenal sebagai sesuatu yang sakral, ada mitos-mitos yang beredar bahwa nama dapat menjadi parameter akan sifat sesorang kelak, oleh karena itu umumnya memberikan nama yang baik adanya, dengan harapan anaknya kemudian bisa memenuhi harapan baik tersebut… kaitan dgn Gentle-Vast… hmmm itu sebenarnya adalah arti dari nama chinese g yaitu wen-haw yang diartikan per-katanya dengan lembut, budiman, bijaksana untuk wen an sangat amat luas untuk haw…

***

Sekilas ttg perkenalan g… sekrang ttg gaya penulsan blog yg katanya aneh, ad tmn yg bilang jadi kaya puisi, yang lainnya bilak kaya literature klasik, ada jga bilang kaya baca novel…

Sebenarnya yang g tulisan dalam blog g… ga kaya blog pada umumnya yang isinya curhat atau opini sang empunya blog ttg suatu peristiwa… blog g, g tujuin utk semua org yang bisa baca… dan goal g adalah supaya mereka bisa sadar akan sindiran-sindiran g atau bisa membuka mata mereka atas semua(bukan hanya satu kejadian) dari sudut pandang yang berbeda, yang uniq lah…

Sebenarnya g lagi explorasi gaya penulisan g yg paling g bagt, … klo sadar u bisa nemuin sebenarnya tiap kali g nulis gaya penulisan g beda… tapi ada satu yg sama… sama2 sebisa mungkin ga menggambarkan maksud g secara lansung… why…???

Ada 2 tujuan, yg pertama… g ga mau ad yang sakit hati abis baca blog g, mengingat g bukan sesorang yang pinter berargumen dengan orang lain… yang kedua adalah g mo melihat berbagai argumen / comment yang masuk, dari comment-comment itu g bisa melihat presepsi masing2 orang dibaliknya dan bagi g itu merupakan g hal yang sangat berharga. dan buat yg sering comment blog g, thx bgt…

***
Sebenarnya besok g ujian… DAMN… cmn koq ga bisa konsen yah… kaya ada yg ganjal di dalam diri g… err… sebenarnya ad beberapa subject yang selalu mengambil 50% atau lebih isi otak g kaya masalah “God” “Love” dan “World Peace” dan saking parah ngambilnya kayanya g mulai gila dan kehilangan arah… yah bisa dikata I ruining my self,

Mungkin klo se danny baca postingan g yg ini dia bakal ketawa keras sambil bilang kata langganan dia KISS™ -> Keep It Simple Stupid™,…

Kadang g kepikir apa harusnya masuk jurusan filsafat yah… ??? terkadang ngerasa boring di TI…

Arghhhh… udah g balik ke mode belajar lagi semoga sukses … see yah

Order and Chaos - Part II

Written by Andy Zheng on Friday, January 26, 2007 at 5:26 AM

The Dynamic Turbulence

Semua yang ada dunia ini tersusun dan membentuk sebuah lingkaran yang berputar , lingkaran ini yang kemudian dikenal dengan nama hidup, pada dasarnya hidup eksis dalam semua sel dan atom , walaupun benda terstatis sekalipun, pada atom-atom statis yang tidak mempunyai sedikit pun hembusan dan nafas akan hidup. Setiap perputaran , dan percikan-percikan api gairah diantara dinding-dinding membran dunia, merangsang kedinamisan sang dinamis untuk membentuk ketidak-tetapan yang kemudian akan mengilhami semesta. Dimana kedinamisan berada, di situlah hidup ada dan bersemayam.

Perputaran siklik yang terus membentuk dan mengurai, berputar membentuk fenomena turbolensi seakan ular kembar siam yang ingin saling melenyapkan sisi lain pada dirinya, berputar, dan saling mengisi celah kosong yang ditinggalkan oleh sisinya yang lain. Perputaran inilah yang kemudian diolah kembali oleh para ahli, yang dianggap tidak lebih dari orang iseng atau gila yang teralalu bermimpi, dan mendasari kehidupan modern pada beberapa dekade lalu hingga saat ini. Setiap dengung kipas, entah itu pesawat yang dapat mencapai kecepatan cahaya, atau hanya sekedar kipas reot untuk menemani kakek-kakek yang menghabiskan waktunya, berpikir bagaimana caranya sesosok prajurit dapat menerobos kepungan dan menghabisi raja, diatas permadani keras berlapis plingkut hitam dan putih, berdasarkan perputaran yang penuh dengan kearogansian chaos dan order yang bersaing untuk saling menguasai, walau hal itu tidak mungkin akan terjadi.


Perputaran siklik “ular kembar siam” modern itu di dasari oleh kehadiran chaos yang perlahan merembes di kala terdapat ketidakstabilan order, seakan ingin merusak tatanan-tatanan order dan menjadikan chaos, superior. Di sisi lain order dengan rapih mereposisi kembali dirinya dengan mengisi hole kosong diantara pergolakan chaos itu sendiri.

Pada generasi-generasi kini, sebelum dan mungkin setelah ini, chaos kemudian dikenal dengan berbagai istilah dari elekron hingga tarian fluks pada sebuah televisi hitam putih tahun 50 an, namun diantara berbagai sebutan itu, negatif muncul menggambarkan chaos, dimana negatif seakan menjadi wadah luas yang menelan berbagai muntahan hujatan dari durhaka, sesat, berhala, hina hingga bajingan. Dan order kemudian dikenal sebagai satu-satunya kekuatan penyeimbang yang mutlak, sama mutlaknya seperti ketika para matematikawan eropa dan mesir kuno, merumuskan 1+1 = 2.

Namun di balik kemutlakan order, lompatan-lompantan quantum abu-abu selalu merekat dan menempel, layaknya lintah yang kegirangan mendapatkan darah yang melimpah-ruah, menanti saat-saat chaos mengambil alih dan menyebabkan perputaran yang kemudian dikenal dengan hidup. Semua hal itu terjadi seakan-akan ingin menyumpahi bahwa tidak ada yang sempurna dalam hidup ini, entah itu sang prima causa atau pun hanya sebuah atom kecil yang melayang menanti berhentinya pergulatan abadi dalam hidup.

Once Upon A Time - Part 2

Written by Andy Zheng on Tuesday, January 16, 2007 at 8:29 PM

Soul River

Di dunia ini, waktu seperti aliran air, kadang terbelokkan oleh secuil puing, atau oleh tiupan angin sepoi-sepoi. Entah kini atau nanti, gangguan kosmis akan menyebabkan aliran anak sungai waktu berbalik dari aliran utama menuju ke aliran sebelumnya. Ketika hal ini terjadi, burung-burung, tanah, orang-orang yang berada di anak sungai itu menemukan diri mereka tiba-tiba terbawa ke masa silam.

Orang-orang yang tersangkut ke masa silam itu sangat mudah dikenali. Mereka mengenakan busana berwarna gelap dan suram, dan berjalan dengan berjingkat, berusaha untuk sama sekali tidak mengeluarkan suara dan berusaha untuk tidak menginjak sehelai rumput pun. Mereka takut bahwa perubahan yang mereka lakukan di masa silam akan membawa akibat yang drastis di masa mendatang.

Seperti hal ini, misalnya, seorang perempuan berjalan terbungkuk-bungkuk di bawah kegelapan bayangan satu lorong. Suatu tempat yang ganjil bagi seorang kelana dari masa depan, tetapi di situlah ia sekrang berada. Pejalan kaki yang berlalu menatapnya tanpa menghentikan langkah mereka. Perempuan itu merapat ke satu pojokan, lalu bergerak ke seberang jalan, dan tubuhnya gemetar ketakuan di tempat gelap lainnya, Ia ngeri kakinya menyepak dan menerbangkan debu.

Perempuan dari masa depan ini, tanpa ada peringatan, masuk ke dalam masa itu, di tempat itu, dan sekarang sedang berusaha agar dirinya tidak terlihat di tempatnya yang gelap. Ia tahu akan segala kelahiran, kematian, kebangkitan dan perperangan bahkan nyanyian burung-burung di waktu tertentu, letak yang tepat dari kursi-kursi, dan hembusan angin yang menghebat. Ia meringkuk di kegelapan dan tidak membalas tatapan orang-orang. Ia meringkuk dan menunggu aliran waktu miliknya sendiri.

Ketika seorang kelana dari masa depan harus berbicara, ia tidak bercakap tetapi merintih. Ia kesakitan. Bila ia membuat perubahan sedikit saja pada apa pun, ia bisa menghancurkan masa depan. Pada saat yang sama, ia dipaksa menjadi saksi atas berbagai peristiwa tanpa bisa mengubahnya. Ia iri pada orang-orang yang hidup dalam waktu milik mereka sendiri, yang bisa bertindak sesuai kemauan mereka sendiri, bisa membangun masa depan, bisa mengabaikan dan membelokkan akibat dari tindakan mereka. Tetapi, ia tak bisa melakukannya. Ia adalah gas yang tak berdaya, hantu, alas tilam tanpa jiwa. Ia telah kehilangan kehidupan pribadinya. Ia adalah orang buangan dari sang waktu.

Orang-orang celaka dari masa depan ini bisa dijumpai di tiap desa dan tiap kota, bersembunyi di bawah atap bangunan, di ruang-ruang bawah tanah, di kolong-kolong jembatan dan di ladang-ladang tandus. Mereka tidak bisa ditanyai tentang peristiwa-peristiwa masa depan, perkawinan-perkawinan, kelahiran-kelahiran, situasi keuangan, penemuan-penemuan, dan keuntungan-keuntungan yang bisa diraih. Sebaliknya mereka ditingglkan dan perlu dikasihani.



NB: cerita ini setengahnya adalah fiksi, namun di sisi lainnya ada hubungan dgn pre-destiny

Order and Chaos - Part I

Written by Andy Zheng on Friday, January 5, 2007 at 2:20 AM

The Philosophy

Seperti halnya sebuah keping logam atau putaran meja rolet yang berputar mencapai titik statisnya, pasti memiliki suatu sisi yang selalu berbagi tempat dengannya. Sesempurna apapun tatanan dapat dipastikan chaos selalu ada, membayangi seperti siluman abadi. Ketika suatu saat system mencapai pada titik klimaksnya, ia pun menyusup keluar dan mulai mengobrak-abrik. Bahkan dalam keadaan yang nampaknya ekuilibrium, sesungguhnya chaos dan order hadir secara bersamaan, seperti kue lapis, yang diantaranya terdapat olesan selai sebagai perekat. Atau seperti rangkaian molekul air yang tampak seakan menempel erat dengan molekul minyak, yang lebih pantas disebut dengan parasit. Selai perkekat diantara molekul itu adalah zona quantum, rimba lebat infinit dimana segalanya relatif dan dinamis, kumpulan potensi dan probabilitas yang terus berputar membentuk untaian pusaran yang seakan tak berujung.

Di kehidupan sehari-hari kehadirannya dapat terasa dalam bentuk intermittency atau ketidaksinambungan, atau keterputus-putusan, lebih mudahnya. Paradigma reduksionisme yang telah berabad-abad mendominasi dunia kita ini, termasuk didalamnya dunia sains,namun tidak pernah ada yang memberikan perhatian terhadap fenomena ini, seperti layaknya nyamuk yang berdengung sayup di samping telinga kita. Dan bagi manusia yang melihat dunia hanya hitam dan putih, maka ia harus siap-siap terguncang, ketakutan dan kebingungan bagai kehilangan arah, setiap kali memasuki area abu-abu dimensi quantum. Karenanya, relativitas bagaikan kiamat besar yang siap menelan jiwa dan raga bagi yang mengagung-agungkan objekvitas. Sains ternyata hanya bisa berbohong, sains tidak selamanya objektif. Sains sering kali, harus subjektif demi sekedar bertahan dalam nafas yang berharga.

Perputaran antara potensi dan probabilitas atau yang lebih menarik bila disebut turbolensi, dapat dianalogikan sebagai pigura hitam kusam yang membingkai setiap kepingan gambar dalam reel film, yang ketika diputar dengan kecepatan 24 frame per detik mata kita menangkap sebagai sebuah kekontinuitas yang wajar dan semestinya, padahal hal tersebut tidak lebih dari potongan-potongan gambar dan bukannya kontinuitas. Dalam realita, turbolensi ibarat “Dapur Agung” yang transeden, tidak terikat waktu dan ruang dalam berinteraksi dengan sinyal-sinyal nonlokal, tempat diracikanya semua probabilitas, potensi, serta semua loncatan-loncatan quantum yang seperti elektron yang terus berlompatan dan susul menyusul. Lalu dari dapur tersebut tersajilah sup yang dikenal dengan nama panggilan “kehidupan” yang nyata dan terukur, bak sebuah realita yang bisa di pandang, di nikmati dan di cicipi atau dihirup baunya.

Turbolensi hadir dimana-mana, dari hidup organisme sesederhana virus Herpes simplex, sang causative agent dari gelembung demam di dasar lantai otak, yang mana hanya dapat dilihat dengan pembesaran sekitar 40,000 kali, sampai ke interaksi antar planet, bintang dan asteroid di galaksi Bimasakti. Tapi kehadirannya selalu dianggap sekedar kebisingan yang tak meng-ganggu, tak lebih signifikan dari bunyi “kresek-kresek” gelombang radio yang tidak pas atau gambar statis sesudah acara telivisi habis. Namun sekarang, sudah saatnya dunia atau tepatnya dunia sains untuk mengalami turbolensi yang sesungguhnya, bahwa cara pandang reduksionis dan fisika klasik para Newtonian tidak akan sanggup memblokir refleksi cermin kehidupan yang nyata. Keteraturan mau tidak mau harus berkaca, menemukan dirinya ternyata berasal dari ketidakteraturan. Sama halnya dengan otak yang merupakan organ nonlinier tulen, ataupun denyut jantung yang tak beraturan, telah menciptakan order untuk seorang manusia agar dapat hidup. Atau putaran non linier electron yang membangkitkan energi listrik puluhan ribu volt, yang kemudian sanggup membawa kembali order bagi kota metropolitan yang konsumtif akan energi ini.

Pada dasarnya terciptanya sebuah system diakibatkan oleh atraktor, suatu region magnetis yang memiliki kekuatan dashyat untuk menarik seluruh system ke dalam dirinya, yang terus-menerus melakukan feedback atas dirinya sendiri. Proses arus-balik itu kemudian menyebabkan system teramplifikasi, hingga tiba di titik di mana ia mengalami fluks, atau disodori”plihan” untuk berubah. Fase penuh kebimbangan itu lalu mencapai kulminasinya, sampai terjadi apa yang dinamakan bifurkasi yang berarti titik percabangan. Bifurkasi dapat mebawa system meruntuhkan dirinya menuju chaos, atau justru menstabilkan system melalui perubahan yang dihadirkannya. Sesudah menjadi stabil, system yang telah melewati bifurkasi menjadi resisten terhadap perubahan hingga periode yang teramat panjang, sampai akhirnya muncul lagi titik-titik kritis yang mampu mengamplikasi feedback dan menghadirkan bifurkasi baru, seperti halnya evolusi iklim zaman prehistoric ke zaman sekarang ini. Bifurkasilah yang melahirkan tonggak sejarah bagi sebuah system untuk berevolusi.

About the Blog!

A drama of sorrow and joy that includes separation and reunion. A matter of clarity that is black and white. A place of dreams and illusions that colour life and death. A spirit of nobility that marks the 'Ways of Heroes'.