Ode To The Gallantry

Written by Andy Zheng on Tuesday, May 22, 2007 at 8:57 PM

The Knight Journey "xia ke xing"

Bertamu ke negri Zhao dengan topi berantakan,
Lengkung goloknya mengkilap laksana salju,
Menunggang kuda putih berpelana perak,
Berderap cepat bagai bintang jatuh,
Tiap sepuluh langkah membunuh satu orang,
Berkuda ribuan li tanpa henti.

Setelah tugas selesai ia kibaskan lengan bajunya,
Dirahasiakannya diri dan namanya,
Di saat luang meneguk arak bersama Xin Ling Jun,
Pedang ditanggalkan, lutut diluruskan.

Membujuk Zhu Hai dengan perjamuan,
Keras upaya menasihati Hau Ying,
Mengutarakan janji dengan sulangan 3 cawan arak,
Mempertahankan kedaulatan negrinya.

Setelah mata berkunang kuping pun panas,
Semangat membara,
Menyelamatkan negri Zhao dari kepungan pasukan Qin,
Dengan serangan yang menggetarkan,

Selama beribu musim semi kedua pahlawan ini,
Masih tetap menggemparkan Da Liang.

Li bai / Li po

Labirin dari Crete*

Written by Andy Zheng on Sunday, May 13, 2007 at 9:44 PM

Wah dah lama ga ngisi blog neh, entah napa hari ini g lagi bad mood,… entahlah….
Btw masih pada inget am kisah tragis g dolo yg ada di

“A drama of sorrow and joy that includes separation and reunion.”

trus waktu itu ada comment yang keren dari tmn g lutfia yang ada lirik lagu can’t buy me love nya…. Nah waktu itu g ngejawabnya juga pake cerita yaitu

“Jawaban relief labirin dari Crete*”

kisah ttg seseorang pemikir, pemimpi, atau pembual yang punya pemikiran berbeda dibandingin am umumnya orang2 yang hidup di labirin crete*

bagi yang lom tau labrin crete itu apa, labirin crete ada lah labirin yang dibangun am arsitek terkenal daedalus di kota crete / kreta (salah satu nama polis/negara bagian di yunani kuno dolo) gunanya untuk ngurung minotaurus, monster dengan kepala banteng.

Tapi labirin di krete ini g ada mintaurusnya, cmn penggambaran /deskripsi kondisi dunia saat ini.

***

Masih di lorong yang sama, masih di labrin yang sama, dan masih menatap dinding berlumut yang sama…. Entah kapan ini dapat berakhir, terkadang kurasakan niat ku untuk punya sayap dan terbang, melayang keluar labirin seperti daedalus dan icarus, tapi entah impian itu dapat tercapai,… 1tahun? 10 tahun?? Atau 100 tahun lagi???...

Keberadaan ku di labrin ini membuat ku muak akan segalanya yang ada. Semua genangan air mata darah, atau jantung berdenyut di pinggiran jalan, termasuk didalamnya relief-relief konyol para pejuang cinta yang telah gugur, dan juga tarian dan nyanyian para pemuja cinta yang plin-plan terbawa arus trend.

Kulangkahkan kaki ku beranjak pergi menapaki jalan-jalan setapak yang lama, jalan setapak yang telah ku lalui selama 21 tahun, kuputari semua daerah yang pernah aku lalui, jalan dimana diri ku jatuh ketika mengayun sepeda pertama, jalan dimana perjalan panjang ku menjadi stalker gadis tetangga ku, jalanan panjang yang kulalui dikala pikiran ku galau…

Ditengah berbagai jalan yang berhamburan menyeruak keluar dari kepala ku, kaki ku terhenti pada persimpangan yang belum pernah ku temui selama ini, antusias ku mulai naik… satu tapak,… sepuluh tapak,… seratus tapak,… awalnya sangat antusias, kemudian menjadi ketakutan, satu per satu keringat digin ku mengalir, entah dari pori-pori yang mana butiran itu keluar dan kemudian merayap di sekujur tubuh ku, mengalir dari mata ku ke sisi bibir ku dan jatuh melalui daguku…
Ketakutan itu tidak membekukan diri ku sebagai simbolisasi jaman, atau patung-patung penghias yang menjadi patokan jalan bagi para buta peta. Ketakutan ku berkurang, beriringan dengan perasaan lama yang kembali merasuk di hati ku… butiran-butiran air mulai lenyap seiring hangatnya tubuh ku, butiran tersebut diserap kembali kulit ku lalu mengalir masuk menelusuri kanal-kanal darah dan masuk ke jantung hati ku, dan kemudian mengkristal dan membekukan hati jantung ku…

Ternyata perjalanan baru ini hanya verakhir dengan cara yang masih sama kunonya dengan berbagai kisah yang lampau…

Benar-benar “man from yesterday…”

Jaman disko yang berjaya dan Madonna menari bagai tante girang…

Semua sama aku tetap berjalan di labirin menatap pemandangan yang berbeda, namun masih dalam kesamaan satu tipe, sama-sama memuakkan, seratus atau mungkin seribuan langkah ku berakhir di labirin yang sama, hanya pada blok yang berbeda…

Kemuakan ini bahkan membuat angan ku lepas terbang tinggi, menggeram, mundur tiga langkah, sambil menggesekkan kaki ke tanah pada setiap langkah, dan meluncur maju menabrak dinding labirin, dan hancur dengan darah bertebaran seperti kanvas yang dipenuhi cipratan tinta beraneka warna lansung dari ember cat sang pelukis tanpa 1 kuas apapun.

20th Century Boys

Written by Andy Zheng on Monday, May 7, 2007 at 9:40 PM

CHAPTER 6
STAND! BECAUSE I'M STANDING JOE!!



Even 50 years after
Will you still be doing things just like this?

I'm still talking about them, you know.
Things that happened 5 years ago,10 years ago

I only want to laugh.
It's fine if i'm forced to laugh

Even The demons will laugh
If you talk about next year.

Night spreads out over the earth.
And right now i'm hurrying along the road home.

Is the croquette from the butcher
that i've come to grow fond of
still waiting there for me
with the same flavor it's always had?

I wonder how long this eternity
that i've been dragging myself home.

The smell of curry waffs at me
from somewhere as the day fades away

Shadow Legion chap 1 and 2

Written by Andy Zheng on Sunday, May 6, 2007 at 12:18 AM

ini project rame-rame am temen, cmn lom ada perkembangan lebih lanjut... klo mo join team developer silahkan pm marquisasusu di Y!

CHAPTER I
SYDNEY LAUTAN API
.
.
.
CHAPTER II
BENUA YANG HILANG
.
.
.
dst


cerita ini akan dilanjutkan di blog milik tim pengembang Shadow Legion


last edited Sunday, May 13, 2007

Curse Of Golden Flower Theme

Written by Andy Zheng on Saturday, April 21, 2007 at 11:36 PM

lyricsnya bagus... diantara banyak lagu jay chou... yang satu ini mau ga mau g mesti acungin jempol... berkualitas,...
-------------------------------------------------------------
菊花台 | Ju Hua Tai | Chrysanthemum Flower Bed by Jay Chou
Soundtrack of Curse of the Golden Flower

曲:周杰倫
Qu : Zhou Jie Lun
Music: Jay Chou

詞:方文山
Ci: Fang Wen Shan
Lyrics: Vincent Fang

Translation: Ling - www.jay-chou.net

Verse 1:

妳 的淚光 柔弱中帶傷
ni de lei guang rou ruan zhong dai shang
Your tears glistens with weakness admist the pain

慘白的月彎彎 勾住過往
can bai de yue wan wan gou zhu guo wang
The ghostly white curved moon hooks onto the past

夜 太漫長 凝結成了霜
ye tai man chang ning jie cheng le shuang
The night is too long and has crystallised into frost

是誰在閣樓上 冰冷的絕望
shi shui zai ge lou shang bing leng de jue wang
Who is in the attic [filled with] cold hopelessness

雨 輕輕彈 朱紅色的窗
yu qing qing tan zhu hong se de chuang
Rain gently bounces off vermillon window

我一生在紙上 被風吹亂
wo yi sheng zai zhi shang bei feng chui luan
I have [written] my life story on paper [only to be] blown into a mess by the winds

夢 在遠方 化成一縷香
meng zai yuan fang hua cheng yi lu xiang
The faraway dream has become really faint

隨風飄散 妳的模樣
sui feng piao shan ni de mo yang
The wind has dispersed the image of you

Chorus:

菊花殘 滿地傷 妳的笑容已泛黃
ju hua chan man di shang ni de xiao rong yi fan huang
Chrysanthemum destroyed, a whole floor of pain your smile has become faintly yellow

花落人斷腸 我心事靜靜躺
hua luo ren duan chang wo xin shi jin jin tang
People are heartbroken when the flower falls, my thoughts lay quietly [aside]

北風亂 夜未央 妳的影子剪不斷
bei feng luan ye wei yang ni de ying zi jian bu duan
The north wind is chaotic the night is still young your shadows can’t be cut

徒留我孤單 在湖面 成雙*
tu liu wo gu dan zai hu mian cheng shuang
Just leaving me lonely doubled [when I stand] by the lake

Verse 2:

花 已向晚 飄落了燦爛
hua yi xiang wan piao luo le can lan
The flower has already come late, drifting down brillantly

凋謝的世道上 命運不堪
diao xie de shi dao shang ming yun bu kan
The wilted morals an unbearable fate

愁 莫渡江 秋心拆兩半
chou muo du jiang qiu xin chai liang ban
[If you are] sad don’t cross the river worries* broken into two
*this literally means splitting the top and bottom of the word “chou” apart into two words “qiu” and “xin”

怕妳上不了岸 一輩子搖晃
pa ni shang bu liao an yi bei zi yao huang
In fear that you can’t get back on shore and will sway for a lifetime

誰 的江山 馬蹄聲狂亂
shui de jiang shan ma ti sheng guang luan
Chaotic sounds of horse hoofs [in] whose territory?

我一身的戎裝 呼嘯滄桑
wo yi shen de wu zhuang hu xiao cang sang
My armory shouts out the wear of time

天 微微亮 妳輕聲的嘆
tian wei wei liang ni qing sheng de tan
The sky is starting to light up your voice is sighing

一夜惆悵 如此委婉
yi ye chou chang ru ci wei wan
A night of disappointment is [said] in such a roundabout way

Repeat Chorus

A place of dreams and illusions that colour life and death.

Written by Andy Zheng on Monday, April 16, 2007 at 8:57 PM

menjulang di tengah awan
berlari menwlusuri waktu yang berlalu
hingga kembali ke dalam ruang dan waktu
dimana meringkuk dalam ketentraman dibalik derita

serpihan daging yang jatuh
dan darah yang tercecer
mengingatkan diri ku akan derita
yang tak pernah pupus dalam
terjangan ombak samudara

menangis dalam tawa
menelan darah masuk ke dalam kerongkongan
untuk dicerna, sekedar penghilang rasa dahaga
dahaga akan kebebasan
dahaga akan terjangan angin yang menyayat

entah apa yang terjadi
ku tak lagi peduli
entah apa yang kurasakan
ku tak lagi dapat merasakannya

siapakah aku...
dan kenapa aku ada disini...
dan jalan mana yang harus ku tempu...

... semua berakhir dengan tanda tanya ???

Once Upon A Time – Part 5

Written by Andy Zheng on Monday, April 2, 2007 at 10:53 PM

.: BABEL :.

Di Dunia Ini, akan segera tampak sesuatu yang ganjil. Kita tidak akan menjumpai rumah di lembah-lembah atau dataran rendah lainnya. Semua orang tinggal di pegunungan.

Suatu ketika di masa silam, ilmuwan menemukan satu kenyataan bahwa waktu berjalan lebih lambat di tempat yang jauh dari pusat bumi. Efeknya memang sangat kecil, tetapi bisa diukur dengan alat-alat yang sangat sensitif. Ketika fenomena ini diketahui, sejumlah orang yang ingin awet muda berpindah ke gunung-gunung. Kini semua rumah berdiri di atas Bukit barisan, Monte Rosa, Ural, Tibet, dan datarang tinggi lainnya. Adalah mustahil menjual pemukiman di tempat lain.

Beberapa orang tidak puas dengan sekedar berumah di gunung. Untuk mendapatkan efek yang maksimal mereka membangun rumah di atas tiang penyangga. Karena itulah di puncak-puncak gunung di seluruh dunia tampak berdiri rumah-rumah yang dari kejauhan bagai sekawanan heron, spoonbill, Ibis atau flaminggo yang berdansa sambil memperhatikan kaki-kai kurus mereka, takut saling terinjak. Orang-orang yang berhasrat hidup sangat lama, membangun pula rumah di atas tiang penyangga yang sangat tinggi pula. Bahkan, beberapa rumah berdiri setengah mil diatas tiang penyangga dari pancang-pancang tiang Gedung pencakar langit. Ketinggian menjadi status. Ketika seseorang menatap tetangganya yang ada di atas lewat jendela dapur, ia percaya bahwa tetangganya itu tidak menua secepat dirinya, tidak kehilangan rambut hingga akhir, tidak berkeriput, dan tetap memiliki hasrat bermain cinta. Sebaliknya, seseorang yang melongok ke bawah, menganggap penghuninya kehabisan tenaga, lemah, dan pikun. Beberapa orang membual bahwa mereka menjalani seluruh hidupnya di ketinggian, lagir di rumah tertinggi di puncak gunung tertinggi, dan tidak pernah sekalipun turun. Mereka merayakan kemudaan mereka dengan senantiasa menatap cermin dan berjalan telanjang di balkon-balkon.

Kini atau nanti, beberapa urusan penting memaksa orang untuk turun dari rumah. Mereka melakukannya dengan bergegas, biru-buru menuruni tiang seperti pemadam kebakaran yang bergegas pergi menyelamatkan anak manusia, berlari dan bergelayutan serta melompat seperti pria hutan. Mereka berlari sambil setengah menjinjit dan melompat berharap dapat secepatnya menyelesaikan permasalahan mereka dan segera pulang. Mereka tahu setiap langkah ke bawah , waktu akan berjalan lebih cepat dan mereka menjadi cepat tua pula. Sementara itu orang-orang yang tinggal di bawah tidak pernah duduk. Mereka berlari, sembari menjinjing tas kerja atau bahan makanan mereka.

Sejumlah kecil warga di tiap kota tak peduli apakah umur mereka menua lebih cepat beberapa detik dari tetangga mereka. Jiwa-jiwa pemberani ini menuju ke dataran rendah pada hari-hari tertentu, bersantai di bawah pohon, berenang riang di danau yang terletak di ketinggian yang lebih hangat, berguling-guling di tanah, Mereka nyaris tidak pernah melihat jam tangan. Juga tidak peduli apakah sekarang hari kamis atau senin. Ketika orang lain melintasi mereka terburu-buru dan pandangan menghina, mereka hanya tersenyum.

Lambat laun , orang lupa pada alasan mengapa tinggal di tempat yang lebih tinggi adalah lebih baik. Meskipun begitu, mereka tatap betahan hidup di gunung-gunung. Sedapat mungkin menghindari daerah cekungan, mengajari anak-anak mereka agar menjauhi anak-anak yang tinggal di tempat yang lebih rendah, karena yang tinggal di tempat lebih rendah tak lebih baik dari iblis dan setan-setan, atau orang kelas rendah yang tidak mengerti peradaban. Mereka tahan terhadap hawa dingin pengunungan, menikmati ketidaknyamanan itu sebagai bagian dari pendidikan. Mereka bahkan meyakini bahwa udara yang tipis bagus untuk tubuh, dan dengan mengikuti logika itu, mereka menjalani diet yang keras, makan hanya dalam porsi kecil. Akibatnya populasi di ketinggian menjadi setipis udara, keropos, dan menjadi tua sebelum waktunya.

About the Blog!

A drama of sorrow and joy that includes separation and reunion. A matter of clarity that is black and white. A place of dreams and illusions that colour life and death. A spirit of nobility that marks the 'Ways of Heroes'.